Hujan Membawamu Kepadaku; Soulmate Things

Hujan Membawamu Kepadaku; Soulmate Things

Sore itu, di hari Minggu, Handa duduk sendiri di kamarnya, mengerjakan tugas sekolah untuk esok hari. Pensilnya berhenti menari di atas kertas saat ia merasakan sesuatu yang aneh. Musik yang sedari tadi mengalun di telinganya tiba-tiba menghilang.

Keningnya berkerut. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping. Di layar, pemutar musik masih berjalan seperti biasa. Ia mencoba menekan tombol pause, lalu play kembali—tetap tidak ada suara.

Merasa janggal, Handa mengalihkan pandangan ke jendela. Hujan turun dengan deras, tapi tak ada suara rintik yang biasa menemani sore-sorenya. Sunyi. Sepi.

"Apa yang sedang terjadi...?" pikirnya, kebingungan mulai menguasai benaknya.

Dengan cepat, ia membuka kontak ponselnya, mencari seseorang yang bisa dihubungi. Jika panggilan tak bisa tersambung, ia akan menulis pesan panjang. Namun, sebelum jarinya sempat menyelesaikan satu kalimat pun, suara samar menyusup ke dalam kesunyian.

"Halo...?"

Handa terkejut. Jarinya membeku di atas layar. Matanya membelalak, menoleh ke segala arah, mencari sumber suara itu.

"Apa kamu bisa mendengarku?"

Lagi. Suara asing itu terdengar, lembut tapi jelas, seolah datang dari suatu tempat yang tak bisa ia lihat. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menelan ludah, mencoba mengabaikan ketakutan yang mulai merayap di dadanya.

Namun, entah keberanian dari mana, bibirnya akhirnya terbuka.

"Iya... aku bisa mendengar suaramu."

Hening sejenak. Lalu, suara itu terdengar lagi, kali ini lebih bersemangat.

"Oh! Bagus! Wah, ternyata ini bukan mitos ya. Menarik! Hei, siapa namamu?"

Handa mengernyit, menggaruk tengkuknya, masih tak sepenuhnya mengerti.

"Apa kau tahu apa yang sedang terjadi sekarang?" tanyanya ragu.

"Kamu tidak tahu mitos yang selalu jadi bahan pembicaraan orang-orang?"

"Tidak tahu... makanya aku bertanya," sahut Handa dengan helaan napas. Kepalanya mulai berdenyut, seolah semua ini terlalu mendadak untuk dicerna.

"Oh, iya juga... Maafkan aku."

Setelah permintaan maaf itu, suara di seberang sana terdiam. Tanpa sadar, Handa pun ikut terdiam. Ia bersandar pada kursinya, menatap jendela. Hujan masih turun deras di luar, anak-anak kecil berlarian di jalanan dengan tawa riang. Tanpa sadar, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.

Lalu, suara itu kembali memanggilnya.

"Hei..."

Handa menegakkan tubuhnya, kembali fokus.

"Apa kamu percaya kalau soulmate itu ada?"

Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuatnya berpikir sejenak. Ia kembali menggerakkan pensilnya, menulis sembari menjawab.

"Percaya. Ibuku pernah bercerita tentang soulmate sebelumnya. Katanya, ‘Di dunia ini, setiap orang punya soulmate-nya masing-masing. Begitu juga dengan kamu. Karena itu, tugasmu hanya satu: belajar dengan benar dan jangan bermain-main.’"

Suara di seberang sana tertawa kecil.

"Wah, ibumu sepertinya sangat ketat. Kalau begitu, kamu tidak bermain dengan teman? Pacaran juga?"

"Bermain... mungkin saat ekstrakurikuler...?" jawab Handa ragu.

"Berarti pacaran tidak pernah ya? Wah, gawat sekali."

Handa mengernyit. "Gawat? Kenapa?"

"Apa kamu tidak kesepian?"

Handa menyilangkan tangannya, bersandar pada kursinya. "Tidak. Memangnya pacaran itu penting?"

Suara di seberang sana terdengar berpikir. "Um... mungkin untuk mencari pengalaman...?"

Namun, sebelum Handa bisa menanggapi, suara-suara yang sebelumnya hilang mendadak kembali. Tawa anak-anak, detak jarum jam, bahkan musik dari ponselnya yang ternyata masih berputar.

Handa terdiam. Ia menoleh ke jendela, melihat sinar matahari perlahan menembus celah awan hitam. Hujan telah reda.

Dan suara samar itu... ikut menghilang bersama hujan.

"Ah," Handa terkesiap. Ia lupa sesuatu yang penting.

Ia lupa menanyakan namanya.

Pesan ibunya dulu, ketika seseorang menemukan soulmatenya, hal pertama yang harus diingat adalah namanya.

Handa menghela napas. Ia meletakkan kepalanya di lengannya yang menyilang di atas meja, menatap kosong ke arah jendela yang kini hanya menampilkan langit senja.

Hujan mungkin telah reda. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang baru saja mulai terasa…


── .✦

Malam hari suara notifikasi dari ponselnya terdengar, Handa yang baru saja keluar dari kamar mandi segera mendekati tempat tidurnya, ia duduk dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. 

Nael: Han.

Nael: Demammu sudah turun?


Handa: Iya, sudah turun dari kemarin. 

Handa: Besok sudah bisa masuk sekolah.

Handa diam sejenak, memikirkan apakah kejadian tadi sore bisa dibicarakan pada sahabatnya, Nael. Ia tidak ingin diejek olehnya kalau dia dianggap telah berhalusinasi. 


Setelah memikirkannya selama beberapa menit, ia mulai mengetik. 

Handa: Nael.

Handa: Apa kamu mendengar suara seseorang tak dikenal tadi sore saat hujan?

Handa: Mendengarnya tidak pakai alat elektronik atau datang langsung, seperti menggunakan sihir…

Handa: Kalau tidak salah, kejadian ini ada kaitannya dengan soulmate? Aku mendengar orang tersebut membicarakan soal itu.


Handa menunggu pesan Nael dengan perasaan khawatir, bagaimana kalau ia memang berhalusinasi? Apa ia harus beristirahat sejenak dari belajarnya seperti kata Nael beberapa hari yang lalu? Mengingat dia juga baru saja sembuh dari demamnya. 


Nael: Tidak? Saat hujan tadi aku tidur pulas sekali.

Nael: Oh, apakah mitos itu terjadi padamu? Ceritakan padaku lebih jelas!


Mitos? Ah, orang tadi juga mengatakan tentang mitos. Apakah mitos yang mereka maksud menjadi fakta saat ini? 


Handa: Bisakah kamu jelaskan padaku mitos apa yang kalian maksud?

Nael: Haa! Kamu terlalu banyak belajar. Bukalah sosial mediamu, untuk apa memilikinya tanpa menggunakannya.

Handa: Jelaskan saja apa yang kamu tahu, Nael.

Nael: Haah.. Jadi ada mitos yang disebut "Rain Deafness.” Di mana orang yang mengalami ini saat hujan turun, suara sekitar perlahan menghilang selain suara seseorang yang disebut soulmate-mu ini. Mitos ini paling populer dan selalu jadi bahan pembicaraan atau berandai-andai tiap malam.

Nael: Banyak yang bilang itu benar adanya, tapi karena tidak ada banyak bukti jadi banyak juga yang bilang bahwa itu adalah mitos fiksi belaka. Bagaimanapun juga "Rain Deafness" bisa terjadi itu ketika kita memenuhi beberapa syaratnya.

Handa: Apa syaratnya?

Nael: Ada banyak, kamu coba cari saja sendiri. Sekarang coba kamu jelaskan padaku apa yang terjadi padamu!

Handa: Nanti saja, aku akan mencari artikel tentang ini terlebih dahulu. Terima kasih Nael.


Setelah mengetik pesan tersebut, Handa mematikan layar ponselnya. Menuju meja belajarnya kemudian menyalakan laptopnya. Sepertinya ia tidak akan tidur lebih awal sesuai jadwalnya. 


── .✦

Di sore hari selepas pulang sekolah, Handa berdiri di dapur, menyiapkan minuman untuk menemani kerja kelompoknya dengan Nael. Sementara itu, Nael duduk di ruang tamu, matanya terpaku pada buku tugas, berusaha memahami instruksi yang diberikan guru mereka.

Tak lama, Handa datang menghampiri, kedua tangannya sibuk membawa ketel berisi teh dan dua gelas. Dengan hati-hati, ia meletakkan semuanya di samping kaki meja, memastikan tak ada yang tumpah ke buku mereka.

Seminggu telah berlalu, dan hujan turun semakin singkat. Ia datang seolah hanya untuk menyapa, lalu pergi begitu saja sebelum Handa sempat membalasnya. Bahkan, kesempatan untuk sekadar mengatakan sepatah kata kepada orang itu pun tak pernah datang.

Akhir-akhir ini, aplikasi yang paling sering dibukanya adalah prakiraan cuaca. Saat melihat bahwa sore ini diprediksi akan turun hujan, tanpa sadar senyum tipis muncul di wajahnya. Nael, yang sedari tadi sudah berhenti membaca, memperhatikan ekspresi Handa dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

Lantunan musik tenang mengiringi mereka mengerjakan tugas. Tak lama kemudian, rintik hujan mulai terdengar. Suaranya semakin deras, menabrak atap seng dan mengisi ruangan dengan gemuruh yang mengganggu fokus mereka.

"Yaah... Hujannya deras. Aku lupa bawa payung," keluh Nael.

Handa mengernyit. Kenapa? Kenapa hujan kali ini tak menghadirkan suara itu seperti sebelumnya? Jadi, waktu itu aku hanya berhalusinasi? Tapi suaranya terdengar nyata... dan suara itu juga menjawab perkataanku.

"Nda. Handa!"

Teriakan Nael membuyarkan lamunannya.

"Ah, maaf," ucap Handa cepat-cepat, kembali menulis tugasnya.

Nael menopang dagu, memperhatikan temannya yang kini tampak gelisah. Dahinya mengerut, tatapannya kosong. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Saat tatapan mereka bertemu, Nael semakin heran.

"Kenapa, Han?"

"Nael, kita sudahi saja kerja kelompoknya. Kita lanjutkan di lain hari."

"Hah?" Mulut Nael menganga mendengar pernyataan tiba-tiba itu.

Namun, sebelum otaknya sempat memproses apa yang terjadi, Handa sudah menutup buku-buku mereka dan merapikannya dengan cepat. Ia juga membereskan barang-barang Nael, lalu tanpa banyak bicara, menariknya ke depan pintu rumah.

"Eh, Han—"

Handa menyodorkan barang-barang Nael, termasuk sepatunya, sebelum akhirnya tersenyum tanpa rasa bersalah.

"Sampai jumpa besok!"

Brak!


Pintu tertutup, meninggalkan Nael yang masih berdiri kebingungan di bawah rintik hujan. Baru beberapa detik kemudian, kesadarannya kembali.

"AH, HEI! MASA AKU DIUSIR TERUS NGGAK DIKASIH PINJAM PAYUNG? KAMU MAU AKU SAKIT YA, HANDAAA!" teriaknya kesal.

Nael berdecak dan mulai mengenakan sepatunya dengan gerakan kasar. Awas saja kau, Handa! gerutunya dalam hati.

Saat ia menyalakan ponsel, hujan semakin deras. Ia mendesah, menggaruk kepalanya frustasi.

Tiba-tiba, di antara suara hujan, terdengar suara samar.

“Hei.”

Nael mengangkat kepala, matanya langsung tertuju pada seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu menatapnya sekilas, lalu tanpa banyak bicara, melangkah pergi dengan santai—masih di bawah payung hitamnya.

Mata Nael berbinar.

"NEBENG!" serunya, langsung berlari menerobos hujan sambil memeluk tas selempangnya agar tak basah.

Pria itu tidak berhenti, seolah tak peduli dengan teriakan Nael yang semakin mendekat.

"Aku diusir dan nggak dikasih pinjam payung!" kata Nael begitu sampai di sampingnya.

"Terus...?" pria itu melirik sekilas, masih melangkah pelan.

"Antarkan aku sampai rumah dong, hehehe," pinta Nael sambil menyesuaikan langkah.

Pria itu hanya menghela napas, tapi tak menolak. Mereka berjalan beriringan di bawah hujan yang mulai sedikit mereda.

Tiba-tiba, pria itu mempercepat langkahnya.

"Eh? Hei! Pelan-pelan jalannya!" protes Nael, tergopoh-gopoh mengejarnya.

── .✦

Setelah meninggalkan Nael di luar rumah, suara seperti radio rusak tiba-tiba terdengar dan mengganggu indera pendengaran Handa. Itu terjadi dalam waktu beberapa detik, kemudian terdengar suara samar-samar. 

Matanya membulat lebar, itu suara yang tanpa sadar ia tunggu-tunggu! Kembali menyapa dirinya. Tapi, kenapa suaranya ini.. seperti sedang menangis? Apakah dia sedang berada dalam kesulitan?

Handa ingin menyapa tapi sepertinya lebih baik untuk menunggu dia tenang terlebih dahulu lalu mengajaknya berbicara. Handa terus menutup mulutnya, melakukan bersih-bersih dengan pelan-pelan takut terdengar oleh yang di sebrang sana. 

Tapi memang tak semua berjalan sesuai dengan keinginan. Gelas minuman yang disimpan tadi tak sengaja tersenggol oleh kakinya, membuat basah lantai dan kakinya, “ah.” ucapnya tanpa sadar. Suara tangisan tadi tiba-tiba menghilang, “ah.” Ucapnya kali ini dalam hati, seperti dia sudah menyadari dirinya?

“Kenapa..”

Handa terkejut dan tetap diam, tidak mencoba untuk menjawab pertanyaan yang tidak berakhir tanda tanya.

“Kenapa kamu diam saja?”

Sepertinya dia memang sudah ketahuan. Handa menghela nafas.

“Maaf. Aku tidak ingin mengganggu.” 

“Tidak perlu meminta maaf, bukan salahmu.”

Jawaban dari suara yang serak karena menangis, membuat Handa merasa hatinya sedang diremas. Tapi tidak sopan bagi dirinya untuk menanyakan apa yang terjadi, jadi ia mencoba untuk bertanya yang seharusnya ia tanyakan sejak awal. 

“Siapa namamu? Aku lupa menanyakannya waktu itu karena hujan tiba-tiba berhenti.” 

“Ah! Aku sudah bertanya waktu itu, tapi kamu tidak menjawab dan malah balik bertanya!” 

Handa yang mendengar itu menggaruk tengkuknya, “begitukah? maaf.” Ucapnya.

“Yah, salahku juga karena tidak mengenalkan diriku lebih dulu. Nama ku Sena.”

“Handa.” 

“Namamu? Um seperti nama motor..” 

“Ah, hei!! Jangan begitu!” 

“Hahahha, maaf!” 

Handa menghela nafas lega dan tersenyum, sepertinya suasana hati Sena sudah membaik. Handa memutar otaknya segera untuk mencari topik lain sebelum hujan mulai mereda. Mengenal dan menemani, rasanya ia sedang melakukan dua tugas sekaligus, tapi biarlah, ia senang dengan hal itu. 


── .✦

Pada malam hari ketika Handa sedang memahami tugas kelompok tadi yang tidak sempat dikerjakan bersama Nael, ponselnya bergetar menampilkan pesan dari Nael. 


Nael: Ada apa denganmu sore tadi? Sampai mengusirku, padahal tadi hujan deras dan aku tidak membawa payung.

Nael: Untung saja aku bertemu teman kakakku.


Ah… Nael kesal padanya. Tidak bisa disangkal, memang salahnya karena tidak menjelaskan alasannya, ia terikat pada waktu. Ia tidak tahu berapa lama hujan akan turun tadi. Ia juga harus memastikan apakah ia akan mendengar suara Sena lagi ketika memenuhi syarat yang telah ia cari melalui artikel yang diunggah di situs web, blog pribadi atau media on-line/berita. 


Handa: Maafkan aku tidak melihat kondisimu.

Nael: Ya ya, kau dimaafkan. 

Nael: Mukamu juga terlihat gelisah. Ada apa?

Nael: Lalu bagaimana dengan tugas kelompok kita? Bukankah beberapa hari lagi dikumpulkan?


Handa menghela napasnya. Ia mengetik.

Handa: Ayo telepon saja, kita kerjakan tugas dulu. Jika ada waktu setelahnya, aku akan menjelaskan apa yang sudah kualami. 


Setelah dua jam berdiskusi, akhirnya tugas tersebut telah selesai. Handa melihat jam dinding kamarnya menunjukkan pukul sembilan, masih ada beberapa waktu sebelum jadwal tidurnya. 

“Jadi? Apa yang terjadi padamu?” Suara Nael terdengar dari ponsel yang ia letakkan di samping tumpukan buku memecah keheningan. Handa menopang dagu, menatap langit malam melalui jendela yang belum ditutup oleh tirai. 

“Mitos yang minggu lalu kamu jelaskan padaku. Itu menjadi fakta, untukku.” Ujarnya dengan pelan dan penuh ragu. Ia menatap ponselnya. Memutar pulpen di antara jarinya hingga bunyi ketukannya memenuhi ruangan. Otaknya memutar ulang kejadian sebelumnya, menyusun ulang potongan kejadian di kepalanya.

“Hei, kenapa diam saja?” Handa tersentak bingung mendengarnya, ia berhenti memainkan pulpennya. “Kau percaya padaku?” Tanyanya.

“Belum. Kau belum menjelaskan situasinya seperti apa. Aku tidak bisa membayangkannya, jadi lanjutkan saja ceritamu dengan jelas.” Handa menggaruk tengkuknya, ia meminum air dari tumblrnya sebelum ia mulai menjelaskan dengan panjang lebar situasi yang dialaminya pada Nael.

Nael menanggapi cerita tersebut dengan reaksi sewajarnya. Handa mengira ia akan diejek telah berhalusinasi, tapi melihat reaksi Nael sepertinya tidak akan seperti itu. Handa menyandar pada kursi. “Bagaimana menurutmu?” Tanyanya pada Nael.

“Situasi yang rumit karena tidak bisa memberikan bukti jelas. Apa kamu punya nomor Sena ini?” 

“Aku tidak memintanya.” 

“Kenapa? Bukankah lebih baik memintanya untuk melihat apakah situasi ini benar kenyataan atau tidak.” Handa menutup mata mendengarnya. Cara Nael memang efektif, tapi situasi sore tadi tidak memungkinkan untuknya memintanya. Ia fokus menemani Sena tanpa bertanya lebih jauh soal keadaanya, mengetahui namanya saja sudah cukup untuknya kali ini. 

Seketika Handa terdiam menyadari sesuatu, mengapa ia peduli pada Sena? Orang yang baru ia kenal hanya dari suaranya. Apakah hatinya tergerak karena ia percaya dengan situasi soulmate ini? 

Suara helaan napas terdengar dari seberang sana. “Lalu apa yang akan kau lakukan kedepannya soal ini, Han?” Handa menegakkan tubuhnya, tangannya ia silangkan. Wajahnya dikerutkan memikirkan jawabannya. 

“Apakah kamu akan menemuinya secara langsung?” Tanya Nael penasaran. 

“Menemuinya?” Handa mengulanginya dengan bingung.

“Hah? Kamu tidak memikirkan hal itu?” Ucap Nael mengerutkan keningnya tidak percaya mendengarnya.

“Bukankah itu akan sulit?” 

“Hei, ada apa dengan pemikiranmu? Apa kamu berpikir kalau kau dan Sena itu berjauhan seperti aku dan Wonhee? Aku di Indonesia sedangkan Wonhee di Korea, begitu?” Ujar Nael dengan kesal tapi diselip halunya sebagai penggemar grup K-Pop.

“Urgh.. stop dengan agenda Wonhee itu pacarmu, dasar kpopers.” Handa tak suka ada selipan yang berguna itu. 

“Aku ini GLLIT! Aku cuman suka ILLIT.” Teriak Nael menyanggahnya dengan cepat.

“Ya ya. Tapi bisa saja kan jika beda kota, pulau, atau negara?” Handa memberikan pendapat kemungkinan yang terjadi setelah ia mengingat artikel dan blog pribadi yang telah ia baca mengenai situasi baru ini.

“Kalau berkaitan dengan waktu turunnya hujan, menurutku tidak akan jauh ruang lingkupnya. Memang ada kemungkinan turun hujan di dua kota, pulau, atau negara di satu waktu tapi dengan jarak sejauh itu sepertinya sulit untuk bisa mengobrol dengan jelas seperti yang kamu alami."

“Jadi menurutmu Sena ini dekat dengan kita?” 

“Ya, bisa saja. Tidak sedekat itu tapi juga tidak jauh. Ada kemungkinan kita pernah bertemu atau berpapasan dengannya sekali.” Handa diam memikirkannya dengan seksama. Apa yang Nael ucapkan tadi memang logis sekali. Ia mengingat cerita-cerita yang pernah ia baca tentang soulmate. Biasanya soulmate itu orang yang tidak disangka-sangka, dekat dengannya, dan memahaminya betul-betul. Tapi Sena ini… Handa tak mengingat kapan mereka bertemu atau saling mengenal. Sena orang asing baginya. Karena itulah ia memikirkan kemungkinan tersebut. 

Nael kembali bertanya, “Bagaimana? Apa kamu akan menemuinya secara langsung nanti?”

“Aku belum bisa menjawabnya. Aku baru mengobrol dengannya dua kali, karena masalah lama waktu dan besar hujan turun itu tidak selalu sama.” 

“Begitu. Yasudah semoga lancar pdkt nya.” Handa tersentak mendengarnya. Saat ingin menyangkal, Nael dengan cepat melanjutkan perkataannya, “Tidak usah menyangkal, aku tau kau sedang bingung kenapa kau peduli padanya.” 

Handa mendengus mendengarnya, “Terkadang aku takut dengan kepekaanmu soal memahamiku.” 

Suara tawa Nael terdengar, “Aku sudah lama mengenalmu.” 

Handa tersenyum, “Terima kasih Nael sudah mendengarkanku. Aku mengira kau akan mengejekku karena berhalusinasi setelah demam tinggi.”

“Aku sempat berpikir soal itu.” 

“Jadi kau akan mengejekku?” 

“Kau tidak berpikir aku ini orang yang positif ya, dasar. Aku sudahi teleponnya ya.”

“Sekali lagi terima kasih soal tugas dan obrolan tadi Nael.” 

Setelah menjawab, telepon dimatikan sepihak oleh Nael. Handa menghela napas, sunyi malam hari kembali menyapanya. Ia tersenyum miris ketika melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 10.35, jadwal tidurnya sudah lewat. Ia mematikan lampu belajarnya, beranjak dari duduknya ketika selesai membereskan keperluan sekolahnya besok. Ia menutup tirai jendela, lalu berbaring di kamarnya yang gelap gulita. Berharap besok ada kemajuan soal situasi ini.


── .✦

Bel istirahat berbunyi, Nael dengan segera menghampiri Handa yang masih fokus menulis materi. Nael duduk terbalik di kursi depan meja Handa, sandaran kursinya dipeluk seperti bantal. Posisi santai itu bertolak belakang dengan ekspresinya yang kelihatan serius. Nael tidak langsung berkata apapun, karena itulah Handa risih dibuatnya. 

“Ada apa?” Tanya Handa menghentikan kegiatannya.

“Oh. Apa aku mengganggumu?” Nael berkata dengan wajah tak tahu-menahu. Handa yang melihat reaksi tersebut, rahangnya mengeras lalu menjawabnya dengan senyum yang terlihat dipaksakan “Tentu saja.” 

Nael menggaruk tengkuknya, “Ah maafkan aku.” 

“Sudahlah. Jadi ada apa? Kenapa wajahmu serius begitu?” Nael tersenyum menjawab, “Ayo cari Sena di sekolah ini.” 

Mata Handa sedikit melebar mendengar ide Sena. Tidak buruk, “Tapi bukankah ini akan seperti curang? Dia saja tidak tahu aku di mana, jadi tunggu saja pernyataannya tentang menemuiku secara langsung saat aku bisa berbicara dengannya lagi.” Jawab Handa sambil melanjutkan menulisnya. 

Wajah Nael yang tadi berseri menyampaikan usulannya, kini merengut dan bertumpu pada sandaran kursi.

Comments

Popular posts from this blog

Arsip Rasa